The worst birthday

Posted on

yeah yeah yeah
dfhd
kemarin tepatnya tanggal 4 April aku ulang tahun yang ke “17”.
well, kalo kata orang-orang yang entah siapa itu namanya SWEET SEVENTEN.
Gag tau apa yang bikin mereka nyebutin kayak gitu. Bagi aku ya ulang tahun umur keberapa aja sama aja. Tapi untuk beberapa orang khususnya kaum hawa, ulang tahun yang ke 17 itu ulang tahun yang paling istimewa. Mungkin karena di umur 17 orang mulai memandang kita sudah dewasa. Yah di Indonesia umur segitu udah cukup untuk di bilang dewasa.
Ngga tahu darimana presepsi ini muncul. Dan aku gak begitu ‘tertarik; sama presepsi ‘bodoh’ ini.

And yah, yang penting di hari ulang tahun itu bukan umur aja kan. Bagi aku ulang tahun berarti perubahan. Perubahan yang bagaimana? Yang jelas ya harus bisa lebih baik dong.

Mungkin aku telay ngepost ini. Karena ulangtahun ku udah lewat 4 hari lalu. Tahun ini banyak teman-temanku *94-lines* yang berumur 17 tahun. Beberapanya mengadakan party. Untuk kaum hawa tentu party yang cukup meriah.

But, not for me.
Di umurku yang ke 17 aku hanya melaksanakan kegiatan ku sehari-hari. yah kegiatan yang bagaimana semestinya lah. Nothin special. Mereka bilang aku bodoh karena gak mau mereyakannya. my mom pernah nawarin buat dirayain, tapi aku tolak. Kenapa? Karena bakal gak adil buat ma sista karena pas dia ‘sweet seventen‘ itu tuh gak dirayain. So, aku hanya mencoba menghormatinya.

Hanya saja ada 1 hal yang membuat ku sedih. Bukan karena tidak dirayakan. Hanya saja orang yang dekat dengan ku melupakannya. Bukan, bukan kekasih ataupun teman. Tapi keluaraga.
Entahlah, aku merasa sangat sensitive jika menyangkut hal yang berhubungan dengan keluarga.

Yeah, aku tidak bohong jika aku sangat menantikan ucapan selamat dari orang-orang. Hanya saja pasti ngga enak kalu ternyata orang-orang mengucapkan selamat untukku -bahkan yang tidak ku kenal sekalipun- tetapi orang tua tidak memberikan nya.

My mom did congratulate me, my sister too, but not with my Dad.
Kejadian ini terulang lagi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tidak mengucapkan ‘itu’ lagi padaku. Dia beranggapan kalau ulang tahun itu tidak penting. Dan yaah.. Aku sedang berusaha beranggapan seperti itu juga. Tapi sulit rasanya untuk mengabaikkan kalu aku tetap menginginkan ucapan selamat.
Rasanya sudah cukup jika aku mendapatkan ucapan selamat itu from ma mom, dad, sista, and ma closed friend.
Malam sebelum hari ulang tahun ku, aku menangis di kamar. Menangis karena aku tahu aku ngga bakal dapat sepatah katapun darinya. aku mencoba tegar. Tapi ketegaran itu hanya tampak di luar saja.

Hhh…
belum lagi saat itu aku sefang bermasalah dengan Mommy. Aku tidak membalas setiap perkataannya. Aku juga hanya mengacuhkan pesan selamat ulang tahun darinya. Karena suatu hal. Dan Mommy berpura-pura tidak tahu. Dia tahu alasan kenapa aku bersikap seperti itu. Dan aku mengharapkan perubahannya. Tapi apa? Dia tidak berubah sama sekali.

Mereka mungkin akan lelah menghadapi sikap diam ku. Biar sajalah. Aku akan berubah. Mencoba berubah demi diriku sendiri.

About Putri

Daddy's lil' daughter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: